Natal kudus baru saja berlalu. Hari dimana para malaikat surgawi turun dari Surga dan menebar kabar gembira ke seluruh penjuru dunia. Putera Allah nan tunggal yang menjelma menjadi manusia yang sederhana lalu kemudian sengsara dan wafat di kayu salib demi menebus dosa-dosa kita. Allah maha kuasa. Apa saja dapat terselenggara di dalam tanganNya yang luar biasa. Cinta dan kasih Allah senantiasa menyertai kita walaupun sering kali kita melupakan Dia. Kita mudah mengeluh dan putus asa dalam menjalani lika-liku kehidupan. Tak jarang pula kita bahkan menyalahkan Allah. Seperti aku sendiri. Yang pernah menyalahkan Dia. Kurang lebih satu tahun yang lalu, aku benar-benar terpuruk dan merasa menjadi orang yang paling tidak beruntung. Setiap hari aku selalu saja berkecil hati dan sibuk mengurung diri. Aku merasa Allah sungguh tidak adil kepadaku. Sampai pada hari Natal tahun lalu, aku memang ada di dalam gereja dan mengikuti misa Natal, namun hatiku sama sekali tidak mau menyapa Allah. Tanpa kusadari aku telah menyakiti hati kudus Allah dan hati kudus PuteraNya. Namun cepat-cepat aku memahami bahwa apa yang telah kulakukan selama ini terhadap Allah sendiri adalah salah. Seiring berjalannya waktu aku pun semakin mengerti bahwa ujian demi ujian yang harus kujalani ini adalah simbol cinta kasih Allah yang Dia beri kepadaku. Dia ingin aku belajar meskipun seringkali terbentur, terbentur, dan terbentur, namun pada akhirnya aku pun terbentuk menjadi pribadi yang lebih kuat untuk menghadapi tantangan hidup selanjutnya. Dan benar saja, semakin hari aku semakin berpasrah diri dan menyerahkan segala sesuatu yang akan terjadi kepada Allah. Mengingat kalimat yang terucap dari Bunda Maria perawan tak bernoda, ketika Ia dipilih Allah untuk mengandung dan melahirkan Sang Juru Selamat, yang disampaikan oleh Malaikat Gabriel ; "terjadilah padaku menurut perkataanMu". Saat aku merasa sedih dan kesepian, aku mengeluhkan dan memasrahkan semua perkara hidupku kepada Allah, lalu seketika itu pula hatiku merasa tenang. Dan saat ini aku sungguh merasakan bahwa Allah sedang memberikan pertolonganNya untukku. Dia mengirim seorang malaikat tanpa sayap yang selalu siap sedia menemani dan membimbing aku dalam keadaan susah maupun senang. Dia bukan hanya kekasih ataupun belahan jiwa, tetapi ia adalah perpanjangan tangan Allah untukku. Aku yang tadinya merasa sendirian dan terbuang, kini mulai memiliki semangat hidup dan berani merakit mimpi yang dulu sempat hilang entah kemana. Dan hari ini aku sungguh-sungguh percaya bahwa tidak ada yang tidak mungkin bagi Allah, asal kita yakin akan Dia dan tetap berada di jalanNya, sebesar apapun permasalahan hidup kita. Karena pertolongan Allah tidak datang terlalu cepat dan tidak juga terlambat, namun tepat pada waktunya.
Imanku Mendamaikan Dunia
Selasa, 29 Desember 2015
Minggu, 08 November 2015
c i n t a
Semarang, 8 November 2015
Tidak semua orang bisa melakukan hal-hal yang besar, namun setiap orang bisa melakukan hal-hal kecil dengan cinta yang besar. Cinta yaitu ketulusan, kesabaran, dan tanpa berpura-pura. Cinta bukan datang dari materi, uang, ataupun harta, namun cinta datang dari kebersamaan di dalam segala kondisi, senang maupun susah. Dan cinta tidak membutuhkan alasan. Bila kita mencintai seseorang hanya karena kelebihan yang ia miliki, berarti itu bukanlah cinta, melainkan hanya sekedar mengagumi saja. Cinta yang sejati datangnya dari Tuhan sendiri. Cinta yang sejati tidak egois, tidak memaksakan kehendak, tidak menyakiti, sebaliknya cinta yang sebenarnya adalah mampu menerima segala keadaan orang yang kita cintai dan mencintai dia dengan sebaik-baiknya. Karena kita tidak pernah tahu akan jatuh cinta kepada siapa, kita juga tidak pernah tahu akan tempat dan waktunya, karena semua sudah digariskan olehNya. Mulailah sejak hari ini, melakukan segala sesuatu, mulai dari hal-hal kecil yang sering kali kita sepelekan sampai hal-hal yang besar, dengan cinta yang sebenarnya, dengan cinta yang luar biasa. Karena apapun bila dilandaskan oleh cinta, hasilnya pun akan jauh lebih baik, jauh lebih indah. :)
Rabu, 04 November 2015
kita hanya berbeda tempat, namun dari atas sana Tuhan pun sepakat
Semarang, 4 November 2015
Hari ini aku menulis lagi. Bercerita sedikit tentang apa yang aku pikirkan mengenai salah satu kalimat yang ada di Alkitab ; "Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan oleh manusia" (Matius 19 : 6). Muncul berbagai gejolak dalam hatiku setelah membaca kalimat tersebut beberapa waktu yang lalu. Sebenarnya kalimat tersebut tertulis dalam sebuah figura yang tergantung di ruang doa di rumahku. Aku sering melihat dan membacanya, namun hari itu aku tertarik untuk lebih memahaminya. Karena kalimat tersebut merupakan kunci jawaban dari kebimbangan dan kekhawatiranku selama ini. Maaf, seperti sebelumnya topik yang ingin aku bahas masih sama, yaitu mengenai cinta tapi beda. Namun bila kemarin aku masih bertanya-tanya dan bimbang, kini aku mulai mendapat pencerahan. Kemarin aku sempat jatuh sakit karena sedikit stress akibat terlalu banyak pikiran, terlalu banyak yang aku cemaskan, yang jelas aku kurang pasrah terhadap apa rencana Tuhan. Tetapi sekarang, setelah membaca lagi dan memahami ayat tersebut, aku yakin dan percaya bahwa Tuhan mencintai aku. Ia menempatkan aku di keadaan yang seperti ini (cinta tapi beda) bukan untuk membuat aku bingung dan hidup dalam kekhawatiran, namun sebaliknya, Ia ingin aku membuktikan bahwa hanya oleh cinta yang benar-benar berasal dari Dia, tak akan ada satupun yang dapat memisahkan kecuali maut. Entah mengapa aku seyakin ini, aku hanya bisa berdoa dan terus melakukan yang terbaik. Seperti yang Tuhan Yesus ajarkan sendiri, yaitu cinta kasih kepada sesama manusia tanpa membedakan. Aku percaya kekuatan cinta itulah yang mengalahkan segala yang jahat. Bila Tuhan menghendaki, apapun bisa terjadi. Dan untuk kamu, seseorang yang aku sayang dan cinta, percayalah bahwa kita hanya berbeda tempat, namun dari atas sana Tuhan pun sepakat. <3
Jumat, 30 Oktober 2015
Cinta tapi Beda
Semarang, 30 Oktober 2015
Hallo... Namaku Claudia Ivona Widyaputri, biasa dipanggil Claudia. Saat ini usiaku 18 tahun, dan statusku adalah mahasiswi di salah satu universitas swasta di Semarang. Disini aku ingin bercerita sedikit tentang apa yang aku lihat dan rasakan mengenai cinta tapi beda, karena jujur saja, ini adalah pengalaman pribadiku. Saat ini aku dan dia memang menjalin suatu hubungan lebih dari sekedar teman, dan kami saling menyayangi satu sama lain. Aku membutuhkan dia dan sebaliknya juga begitu. Kami saling mengerti dan memahami, sehingga jarang sekali kami bertikai sekalipun mengenai hal-hal kecil. Namun diantara kebahagiaan yang kini kami nikmati, ada beribu kekhawatiran yang kami rasakan. Kami takut banyak pihak yang nantinya tidak menyetujui hubungan kami saat kami memutuskan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih serius. Sering aku bicara dalam hati, mengapa, mengapa, dan mengapa Tuhan menempatkan kami di keadaan yang seperti ini, keadaan dimana kami berbeda namun Ia satukan oleh cinta. Apa kami nantinya tidak boleh besama selamanya? Apa iya seperti itu? Mengapa mereka bisa seegois itu dan menginginkan kami berpisah hanya karena iman kami yang berbeda. Sedangkan kami sendiri tidak mempermasalahkan perbedaan ini, justru kami bahagia karena kami dapat saling melengkapi dan menjadikan hari-hari kami menjadi lebih berwarna. Tak jarang pula dibalik senyumku yang kutunjukkan padanya, ada beribu air mata yang ingin menetes namun selalu kutahan sekuat tenaga. Aku khawatir, aku takut, jika nantinya hanya aku yang masih kuat untuk memperjuangkan hubungan ini. Aku sangat takut jika nantinya dia menyerah di tengah jalan dan memilih wanita lain yang berkeyakinan sama dengan dia. Setiap malam di dalam doa selalu kusebut namanya, dan aku memasrahkan segala yang akan terjadi kepada sang empunya hidup. Biarlah semua terjadi menurut kehendakNya, bila aku terlahir untuknya dan dia untuk aku, kami akan disatukan suatu hari nanti, dan tugasku sekarang adalah mencintai dia dengan sebaik-baiknya. Dan aku mulai saat ini aku menyimpulkan bahwa "oleh karena itu Tuhan menciptakan cinta, agar yang berbeda bisa menjadi satu".
Langganan:
Postingan (Atom)




